TASIKMALAYA, newsline.id – Anggaran jumbo Rp2,8 miliar untuk pengadaan perangkat multimedia di desa-desa Kabupaten Tasikmalaya bikin publik garuk kepala. Rencana yang digulirkan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) ini diklaim untuk mempercepat akses informasi, tapi detailnya justru memunculkan tanda tanya besar.
Paket yang tercatat dalam RUP disebut berisi webcam, speaker, dan mikrofon-alat yang sejatinya bukan barang mewah.
Namun, angka miliaran rupiah yang digelontorkan membuat publik bertanya-tanya: apakah benar perangkat sederhana itu layak dihargai setinggi langit?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Utami Mufliha, Kabid Penataan dan Kerjasama Desa, menegaskan bahwa pengadaan ini bukan asal-asalan.
“Itu satu paket perangkat komunikasi daring, bisa dipakai untuk zoom meeting dan kegiatan digital lain,” Ucap Utami lewat sambungan WhatsApp, Senin (04/04/2026).
Ia berdalih, tujuan utama proyek ini adalah agar desa tak lagi terjebak forum tatap muka yang lambat. Informasi bisa meluncur cepat lewat jalur daring.
Desa yang sudah punya televisi atau layar bisa langsung memanfaatkan, sementara yang belum diminta menyesuaikan anggaran sendiri.
Meski begitu, publik tetap menyorot nilai fantastis proyek ini. Bagaimana mungkin webcam dan speaker bisa menelan biaya miliaran? Apalagi, dalam dokumen RUP, aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan tak masuk pertimbangan.
PMD berkilah, spesifikasi teknis disusun tim, bukan keputusan sepihak. Mereka juga tengah menyiapkan metode e-purchasing dengan skema mini kompetisi untuk mencari penyedia.
“Karena anggarannya besar, kemungkinan besar mini kompetisi,” kata Utami.
Namun, suara masyarakat jelas: proyek ini harus dijelaskan secara gamblang. Tanpa transparansi, aroma pemborosan dan salah prioritas makin tajam tercium.
Digitalisasi desa memang penting, tapi publik berhak tahu apakah Rp2,8 miliar benar-benar untuk masa depan informasi, atau sekadar proyek yang bikin rakyat geleng-geleng kepala.
Penulis : Ade-YR
Editor : TimNewsline/Red









