Newsline.id | Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat — Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia menjadi momentum penting untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap isu kesehatan mental. Di Kabupaten Tasikmalaya, tantangan terbesar dalam penanganan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) bukan hanya pada aspek medis semata, tetapi masih kuatnya stigma negatif serta mitos yang berkembang di tengah masyarakat.
Hal tersebut diungkapkan oleh Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSUD KHZ Musthafa, Kabupaten Tasikmalaya, dr. Hj.Nia Nuraeni, Sp.KJ, dalam sebuah wawancara khusus. Mengusung tema global Hari Kesehatan Jiwa Sedunia “Pengalaman hidup yang nyata, pengalaman hidup yang didengar, suara nyata, dan perubahan nyata” dr. Nia menekankan pentingnya pendekatan yang mendengarkan suara para penyintas dan melibatkan masyarakat secara langsung.
Tingginya Angka Percobaan Bunuh Diri dan Mitos di Masyarakat
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
dr. Nia mengungkapkan, peningkatan kasus percobaan bunuh diri yang kerap ditemukan dalam siklus bulanan di Kabupaten Tasikmalaya harus menjadi alarm kewaspadaan bersama. Berdasarkan pendalaman klinis, sebagian besar pemicunya berakar dari perasaan terisolasi, merasa tidak didengarkan, hingga terjebak dalam frustrasi mendalam.
Sayangnya, kondisi kejiwaan kerap disembunyikan karena rendahnya pemahaman masyarakat. Isu kesehatan mental sering kali disalah artikan sebagai kelemahan diri, kurang iman, bahkan kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis atau guna-guna. Stigma keliru ini membuat penderita sering kali “berkelana” terlebih dahulu ke pengobatan non-medis sebelum akhirnya mendatangi fasilitas kesehatan dalam kondisi yang sudah berat.
”Padahal, realitanya banyak orang dengan gangguan jiwa justru menjadi korban, dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, alih-alih membahayakan. Gangguan jiwa adalah masalah medis akibat ketidakseimbangan neurotransmitter di otak, sama seperti penyakit fisik lainnya seperti diabetes atau hipertensi yang memerlukan obat untuk menyeimbangkannya,” jelas dr. Nia. Rabu (21/10/2026).
Prinsip Layanan: Jemput Bola dan Nothing About Us Without Us
Menerapkan prinsip “nothing about us without us” (tidak ada kebijakan tentang kami tanpa keterlibatan kami), pelayanan kesehatan jiwa di Kabupaten Tasikmalaya terus didorong agar benar-benar menyentuh kebutuhan riil di lapangan. Mengingat sekitar 30 persen kasus ODGJ di wilayah Tasikmalaya belum sepenuhnya tertangani secara optimal, pihak rumah sakit memperkuat sinergi hingga ke tingkat akar rumput.
Sebagai langkah taktis, layanan dioptimalkan melalui jejaring 40 Puskesmas yang tersebar di 39 kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya. Para tenaga kesehatan di puskesmas telah dibekali instrumen khusus dan akses konsultasi 24 jam dengan dokter spesialis jiwa di RSUD KHZ Musthafa. Sistem jemput bola (jemput musuh) ini diterapkan untuk memangkas rantai rujukan yang panjang agar keluarga pasien tidak kelelahan secara fisik maupun finansial.
Deteksi Dini dan Jaminan BPJS Kesehatan
dr. Nia mengimbau masyarakat untuk tidak ragu melapor atau mendatangi fasilitas kesehatan terdekat apabila melihat perubahan perilaku atau kondisi emosional yang mengkhawatirkan pada orang-orang di sekitar. Deteksi dini sangat krusial guna mencegah kecacatan permanen serta mempercepat proses pemulihan, mengingat duration of treatment (durasi keterlambatan pengobatan) di bawah dua tahun memberikan tingkat kesembuhan yang jauh lebih baik.
Kabar baiknya, seluruh rangkaian layanan konsultasi psikiatris, pemeriksaan, hingga obat-obatan bagi pasien jiwa di fasilitas kesehatan pemerintah telah tercover sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan. Bagi keluarga prasejahtera yang menemui kendala administratif kepesertaan, pemerintah daerah bersama instansi terkait seperti Baznas siap memfasilitasi agar pasien dapat masuk ke dalam program penerima bantuan.
Pesan untuk Masyarakat Tasikmalaya
Melalui momentum Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, dr. Nia mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Tasikmalaya untuk bersama-sama menghentikan stigma negatif, berhenti menghakimi, dan membuka telinga serta hati untuk saling mendengarkan.
”Stop stigma negatif terhadap siapapun dan dengan kondisi apapun. Kita tidak pernah tahu kapan hal tersebut bisa menimpa diri kita atau keluarga kita. Mari berbuat yang terbaik, peka terhadap sekitar, dan deteksi dini demi mewujudkan masyarakat Kabupaten Tasikmalaya yang lebih sehat secara fisik dan mental,” pungkasnya.
Penulis : Ilham T Rachman
Editor : Redaksi









