Newsline.id – Bandung, Jawa Barat,– Perhutani Bandung Selatan menegaskan komitmennya untuk menjaga keamanan hutan menghadapi musim kemarau panjang tahun ini. Administratur KPH Perhutani Bandung Selatan, Lily Kurnia Asih, melalui Wakil Administratur Harry Soediana, menyampaikan bahwa pihaknya melakukan langkah antisipatif dengan memanfaatkan teknologi, memperkuat kesiapan sumber daya manusia, serta berkolaborasi lintas sektor.
Prediksi Kemarau Panjang
Berdasarkan informasi BMKG, musim kemarau diperkirakan berlangsung sejak pertengahan Juni hingga Oktober 2026. Durasi yang panjang ini meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan.
“Cuaca saat ini sudah bergeser ke musim kemarau. Dengan prediksi BMKG, kami harus siaga penuh,” ujar Harry.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Teknologi Sipongi
Perhutani Bandung Selatan mengandalkan aplikasi Sipongi untuk mendeteksi dini titik panas (hotspot). Sistem berbasis satelit ini mampu menunjukkan lokasi secara presisi, sehingga memudahkan respon cepat penanggulangan Karhutla.
“Setiap hari hasil monitoring Sipongi kami laporkan ke Divre Jawa Barat-Banten hingga pusat. Ini bentuk keseriusan kami menjaga hutan,” jelas Harry.
Kesiapan SDM dan Kolaborasi
Selain teknologi, Perhutani menyiapkan kesiagaan internal mulai dari KPH, BKPH, RPH hingga masyarakat desa hutan. Kolaborasi juga dilakukan dengan stakeholder seperti Kepolisian, BPBD Kabupaten Bandung, TNI, Pemadam Kebakaran, tenaga kesehatan, hingga komunitas pecinta alam.
Dengan luas kawasan mencapai 55.470 hektar, yang meliputi Kabupaten Bandung dan Bandung Barat, Perhutani menekankan perlunya man power yang besar untuk menjaga hutan bersama-sama.
Titik Rawan dan Sarana
Meski kondisi hutan Bandung Selatan dengan ketinggian 700–2.000 mdpl relatif aman, terdapat titik rawan di Gunung Halu, Cililin, dan Raja Mandala. Untuk itu, Perhutani menyiapkan sarana seperti sprayer portable, gebyokan pemati api, modifikasi penampungan air di mobil Polisi Hutan, serta pemasangan plang imbauan.
Edukasi Masyarakat
Harry menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat penggarap lahan, pendaki gunung, dan pengunjung hutan. Faktor human error seperti pembakaran lahan dan puntung rokok menjadi pemicu utama kebakaran.
“Sedikit percikan api di musim kemarau bisa berakibat fatal. Karena itu kami intensifkan patroli dan edukasi,” tegasnya.
Antisipasi Krisis Air
Selain Karhutla, Perhutani Bandung Selatan juga berkoordinasi untuk mencegah kelangkaan air bersih. Sumber air dari Gunung Puntang disiapkan untuk kebutuhan masyarakat.
Penulis : Didu
Editor : Chandra Foetra S









