Newsline.id – Tasikmalaya, Jawa Barat,- Proyek peningkatan jaringan irigasi permukaan di Desa Puspamukti, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, tengah menjadi sorotan publik. Saluran irigasi yang baru rampung pada pertengahan September 2025 dengan anggaran Rp195 juta dari APBN melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI), kini menunjukkan kerusakan serius. Retakan pada dinding dan lantai saluran yang tergerus air menjadi bukti nyata bahwa proyek ini tidak berjalan sesuai harapan.
Proyek yang semestinya menjadi solusi bagi kebutuhan irigasi petani setempat justru menimbulkan kekhawatiran. Berdasarkan papan informasi, pelaksanaan proyek dijadwalkan selama 60 hari kalender dan dikerjakan oleh Kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Karya Mukti. Namun, fakta di lapangan berbeda. Ketua P3A Karya Mukti, Wawan, mengungkapkan bahwa proyek hanya dikerjakan selama 25 hari, dari 20 Agustus hingga 13 September 2025.
“Dari awal saya sudah sampaikan agar lokasi ini jangan dipilih karena tanahnya bekas longsoran. Kami sudah konsultasi sebelum pengerjaan, tapi tetap dipaksakan. Kesalahan awalnya dari pipa yang ditanam, dan papan informasi pun keliru, seharusnya tertulis 45 hari kalender, bukan 60,” ujar Wawan saat dikonfirmasi, Kamis (25/09/2025).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pantauan langsung pada Rabu (24/09/2025) menunjukkan kondisi memprihatinkan. Lantai saluran mulai terkikis oleh aliran air, dan retakan cukup lebar terlihat di beberapa titik dinding. Wawan menjelaskan bahwa tanah yang digunakan merupakan hasil urugan dari bekas longsoran, yang tidak cukup stabil untuk menopang konstruksi beton.
“Mungkin karena bebannya berat, tanahnya ambles sekitar 80 cm. Saya dan para pekerja sudah ragu sejak awal, tapi tetap dijalankan. Setelah selesai seminggu, hujan turun dua malam berturut-turut, dan retakan mulai muncul,” jelasnya.
Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa proyek dikerjakan dengan tergesa-gesa, tanpa kajian teknis yang memadai. Kualitas material dan metode konstruksi pun dipertanyakan, mengingat dampak kerusakan muncul hanya dalam hitungan hari setelah proyek rampung.
Saat ini, pihak P3A Karya Mukti tengah berkoordinasi dengan Tim Pendamping Masyarakat (TPM) dan para petani penggarap sawah untuk menentukan langkah perbaikan. “TPM menyarankan agar dibongkar dan dibangun ulang. Kami rencanakan pembongkaran dan perbaikan paling cepat hari Jumat ini,” tambah Wawan.
Sekretaris Desa Puspamukti, Irwan Subarna, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana perbaikan. “Ada titik lokasi yang rawan, dan meski antisipasi sudah dilakukan, tanah labil tetap berisiko. Ketua kelompok sudah menyatakan kesanggupan memperbaiki karena proyek masih dalam tahap pengerjaan,” ujarnya.
Proyek P3-TGAI sendiri merupakan program nasional yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan air irigasi di tingkat petani. Namun, kasus di Puspamukti menjadi contoh bahwa pelaksanaan di lapangan tidak selalu berjalan ideal. Minimnya pengawasan teknis, ketidaksesuaian lokasi, dan ketergesaan dalam pelaksanaan menjadi faktor yang patut dievaluasi.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terkait insiden ini. Publik pun menanti transparansi dan tindak lanjut yang tegas agar dana negara benar-benar memberi manfaat, bukan justru menimbulkan kerugian.
Penulis : Tim/Red
Editor : Chandra F Simatupang









