Foto Ilustrasi
Newsline.id | TASIKMALAYA,JAWA BARAT — Tubuh mudah lelah, wajah pucat, pusing, hingga jantung berdebar kerap dianggap sebagai keluhan biasa akibat aktivitas padat. Padahal, gejala tersebut dapat menjadi tanda anemia atau kondisi ketika kadar hemoglobin (Hb) dalam darah berada di bawah batas normal.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik, dr. Arie Taufik, Sp.PD-KHOM, FINASIM, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala tersebut. Menurutnya, anemia bukan hanya disebabkan oleh kekurangan zat besi, tetapi juga dapat berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan lainnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dokter yang berpraktik di RSUD KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya itu menjelaskan bahwa anemia menjadi salah satu kelainan darah yang perlu mendapat perhatian, khususnya pada kelompok remaja dan dewasa.
Ia merujuk data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang, menurut keterangannya, menunjukkan angka anemia sekitar 15,5 hingga 32 persen pada kelompok remaja dan dewasa di Indonesia. Angka tersebut perlu dilihat berdasarkan kelompok usia dan indikator yang digunakan dalam data survei.
“Kelainan darah yang paling sering terjadi pada usia remaja dan dewasa adalah kurangnya hemoglobin (Hb) atau kita sebut anemia,” jelas dr. Arie. Minggu (18/10/2026).
Gejala yang Kerap Dianggap Sepele
Dr. Arie menerangkan, seseorang dapat dicurigai mengalami anemia ketika terlihat pucat dan mengalami gejala seperti lemah, letih, lesu, serta penurunan kemampuan beraktivitas.
Selain itu, anemia juga dapat disertai keluhan lain, seperti gangguan keseimbangan, vertigo, pandangan buram, jantung berdebar, dan sesak napas. Pada kondisi berat, anemia bahkan dapat menyebabkan penurunan kesadaran.
Meski demikian, gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami anemia karena dapat pula disebabkan oleh kondisi medis lainnya. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Karena itu, masyarakat disarankan tidak hanya mengandalkan gejala untuk menentukan penyakit atau mengonsumsi obat maupun suplemen secara mandiri tanpa mengetahui penyebab keluhan.
Anemia Tidak Selalu Karena Kekurangan Zat Besi
Salah satu hal yang perlu dipahami masyarakat adalah penyebab anemia yang beragam. Dr. Arie menjelaskan bahwa secara garis besar terdapat tiga mekanisme yang dapat menyebabkan kondisi tersebut.
Pertama, tubuh kekurangan bahan baku pembentukan hemoglobin, seperti zat besi, asam folat, dan vitamin B12.
Kedua, terdapat gangguan dalam pembentukan sel darah merah. Kondisi ini dapat ditemukan pada sejumlah penyakit, antara lain sindrom mielodisplasia, anemia aplastik, talasemia, dan anemia sel sabit.
Ketiga, sel darah merah berkurang akibat penghancuran yang berlebihan atau perdarahan.
Zat besi memang berperan penting dalam pembentukan hemoglobin. Namun, kekurangan zat besi hanya salah satu dari sejumlah kemungkinan penyebab anemia.
Dengan demikian, penanganan anemia harus disesuaikan dengan faktor yang mendasarinya. Pemberian suplemen zat besi tidak serta-merta tepat untuk semua pasien, sehingga pemeriksaan medis diperlukan sebelum menentukan penanganan.
Riwayat Keluarga Juga Perlu Diperhatikan
Selain faktor gizi dan kondisi medis tertentu, anemia juga dapat berkaitan dengan kelainan genetik yang diwariskan dalam keluarga. Salah satu contohnya adalah talasemia.
Menurut dr. Arie, penelusuran penyebab anemia tidak cukup hanya dengan melihat gejala yang dialami pasien. Riwayat kesehatan keluarga, termasuk kondisi orang tua dan saudara kandung, juga menjadi informasi penting dalam proses pemeriksaan.
Informasi tersebut dapat membantu dokter menilai kemungkinan adanya kelainan darah yang diturunkan secara genetik serta menentukan pemeriksaan lanjutan yang diperlukan.
Oleh sebab itu, masyarakat yang memiliki riwayat keluarga dengan kelainan darah sebaiknya menyampaikan informasi tersebut ketika berkonsultasi dengan dokter.
Pola Makan Seimbang dan Pemeriksaan Dini
Untuk membantu mencegah anemia yang berkaitan dengan kekurangan zat gizi, dr. Arie menekankan pentingnya menjaga pola makan dengan asupan gizi yang seimbang.
Namun, ia mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan gejala anemia yang muncul tanpa penyebab jelas, terutama apabila disertai perdarahan yang tidak diketahui sumbernya.
“Menjaga pola dan jenis makanan yang berimbang adalah salah satu cara untuk mencegah terjadinya anemia. Namun, bila Anda merasakan tanda dan gejala anemia tanpa sebab yang jelas, segeralah periksakan ke dokter penyakit dalam subspesialis hematologi,” pesannya.
Masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas berat, nyeri dada, atau penurunan kesadaran. Sementara itu, keluhan seperti mudah lelah dan pucat yang menetap juga perlu diperiksakan agar penyebabnya dapat diketahui.
Melalui edukasi dan deteksi dini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa anemia bukan sekadar persoalan kurang darah yang bisa ditangani dengan satu jenis suplemen. Pemeriksaan yang tepat menjadi langkah penting untuk mengetahui penyebab dan memperoleh penanganan sesuai kondisi masing-masing pasien.
Penulis : Ilham T Rachman
Editor : Redaksi









