Newsline Bogor – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, anggota DPR RI Dr. Tr. H. Agun Gunandjar Sudarsa Bc.IP., M.Si hadir langsung di upacara bendera yang digelar di Desa Ciburayut, tempat tinggalnya sejak tahun 2007.
Meski mendapat undangan resmi untuk mengikuti upacara kenegaraan di Istana Negara sebagai pimpinan alat kelengkapan dewan, beliau tetap menyempatkan untuk tetap mengikuti upacara, dan kali ini berada di tengah masyarakat Desa Ciburayut.
“Dengan tema Bersatu, Berdaulat, Sejahtera, Indonesia Maju, saya anggota DPR RI yang berdomisili di Desa Ciburayut pada hari ini tidak bisa ikut upacara kenegaraan di Istana. Walaupun saya mendapatkan undangan, namun karena 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia ini sangat berarti, dan dengan tekad semangat pemerintahan Prabowo-Gibran, maka wajib untuk tetap melakukan upacara. Hari ini saya upacara di Desa Ciburayut, yang inspektur upacaranya adalah Pak Kepala Desa, Pak Dulloh. Saya sudah kenal beliau sejak masih jadi sekretaris desa,” ujar Agun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak hanya sekadar hadir, Agun juga menyampaikan pesan kebangsaan yang kuat. Ia menekankan bahwa hanya dengan persatuan, Indonesia bisa melaju dan dihormati di kancah internasional.
“Kita hanya bisa Indonesia maju kalau kita bersatu. Lihat saja kebijakan pemerintah di bidang politik, ekonomi, penegakan hukum—banyak hal yang progresif, meski tentu ada yang kurang tepat. Tapi dengan kondisi geopolitik hari ini, tidak ada alternatif lain. Hanya dengan persatuan dan stabilitas, kita bisa jalankan pemerintahan, dan menjadi bangsa yang dihargai dan dihormati bangsa lain,” tegasnya.
Agun juga mengapresiasi antusiasme warga dalam penyelenggaraan upacara yang benar-benar digerakkan dari masyarakat. “Saya bangga, karena upacara hari ini murni dari masyarakat. RT, RW diundang, seluruh kepala desa terdahulu juga hadir. Pelaksananya warga sendiri, tidak ambil orang dari luar. Ini bisa jadi contoh buat desa-desa lain,” ungkapnya dengan semangat.
Tak lupa, Agun juga menyampaikan pandangannya soal dinamika demokrasi. Ia mengimbau semua pihak untuk menjaga persatuan, meski berbeda pandangan.
“Kepada seluruh pihak yang mungkin masih bersikap kontradiktif, kami menerimanya sebagai bagian dari demokrasi. Itu sesuatu yang niscaya dan tidak bisa dihindarkan. Saya yakin mereka juga punya niat baik untuk kemajuan bangsa. Jangan sampai perbedaan itu dianggap sebagai disintegrasi, karena kita memang Bhinneka. Kita kembali pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.
Sebagai penutup, Agun menyampaikan optimisme terhadap masa depan Indonesia, khususnya Desa Ciburayut yang terus mengalami perkembangan. “Saya tinggal di sini sejak 2007 dan melihat sendiri perkembangan jalan, ekonomi, dan lapangan. Saya yakin, 80 tahun bahkan sampai 5 tahun ke depan, kita akan lebih sejahtera,” tutupnya.
(Wandi.A)









