Kepala Desa Tasikmalaya Keluhkan Program KDMP yang Dinilai Merugikan, Dana Desa dipotong, Tapi Tidak Semua Desa Dibangunkan

Kamis, 11 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption: Ilustrasi Sejumlah Kepala Desa Keluhkan Program KDPM, Dana Desa Dipotong, tapi tidak Dibangunkan KDMP karena tidak memiliki lahan//jabar.newsline.id//

Caption: Ilustrasi Sejumlah Kepala Desa Keluhkan Program KDPM, Dana Desa Dipotong, tapi tidak Dibangunkan KDMP karena tidak memiliki lahan//jabar.newsline.id//

Newsline.id – Tasikmalaya, Jawa Barat,- Sejumlah Kepala Desa di Kabupaten Tasikmalaya melontarkan kritik tajam terhadap program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang digagas pemerintah pusat. Alih-alih menjadi solusi penguatan ekonomi desa, program ini justru dinilai menimbulkan ketidakadilan dan kerugian besar bagi desa-desa yang tidak mendapatkan pembangunan koperasi, meski anggaran mereka telah dipangkas secara signifikan.

Program KDMP yang bersumber dari anggaran dana desa tahun 2026 disebut telah memangkas alokasi dana dengan jumlah fantastis. Ironisnya, tidak semua desa mendapatkan fasilitas koperasi, sehingga menimbulkan pertanyaan serius mengenai keadilan distribusi dan transparansi kebijakan.

Baca juga link berita sebelumnya dibawah ini;

ADVERTISEMENT

WhatsApp Image 2025 01 31 at 10.32.21

SCROLL TO RESUME CONTENT

https://jabar.newsline.id/pwri-soroti-pembangunan-kdmp-di-kabupaten-tasikmalaya-hampir-90-persen-tanpa-papan-proyek-pemkab-terkesan-tutup-mata/

Keluhan keras datang dari Asdat, Kepala Desa Sukamanah Kecamatan Cigalontang, yang menyebut desanya tidak dibangunkan KDMP karena tidak memiliki lahan carik desa. Padahal, dana desa mereka telah dipotong drastis hingga Rp 800 juta dari total Rp 1,130 miliar, menyisakan hanya Rp 370 juta atau sekitar 20% dari anggaran semula.

“Kami merasa sangat dirugikan. Dana desa kami dipangkas hampir 80%, tapi koperasi tidak dibangun karena alasan lahan. Kalau harus beli lahan, jelas tidak mungkin karena NJOP mahal dan dana desa tidak boleh digunakan untuk itu,” ungkap Asdat dengan nada kecewa, Rabu (10/6/2026).

Asdat menambahkan, kondisi ini bukan hanya dialami Sukamanah. Desa Nanggerang dan Cigalontang Gunung di kecamatan yang sama juga tidak mendapatkan pembangunan KDMP. Bahkan, menurutnya, fenomena serupa terjadi di banyak kecamatan lain di Kabupaten Tasikmalaya.

Proses Pembangunan yang Tidak Partisipatif

Selain soal pemangkasan anggaran, Asdat menyoroti minimnya pelibatan pemerintah desa dalam proses pembangunan KDMP. “Kami hanya diminta menyediakan lahan dan berkoordinasi dengan Babinsa. Setelah itu proyek dikerjakan pihak ketiga, pekerjanya pun dari luar desa. Warga kami tidak dilibatkan sama sekali,” tegasnya.

Hal ini menimbulkan kekecewaan mendalam karena pembangunan yang seharusnya menjadi sarana pemberdayaan masyarakat justru menyingkirkan peran warga lokal. Para kepala desa menilai pola kerja semacam ini berpotensi menciptakan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Dana Desa Dipukul Rata

Keluhan semakin tajam ketika Asdat mengungkap bahwa seluruh desa di Kabupaten Tasikmalaya, baik yang semula memiliki dana desa di atas Rp 1 miliar maupun di bawahnya, kini hanya menerima Rp 370 juta di tahun anggaran 2026. Pemangkasan ini dianggap menghambat pembangunan desa, memperlebar ketimpangan, dan menimbulkan ketidakadilan struktural.

Program KDMP yang digadang sebagai penguatan ekonomi desa justru dipersepsikan sebagai beban baru. Para kepala desa menilai kebijakan ini tidak transparan, tidak partisipatif, dan berpotensi menimbulkan ketimpangan antarwilayah.

Pertanyaan Besar tentang Keadilan

Kritik dari para kepala desa membuka ruang diskusi lebih luas mengenai arah kebijakan pembangunan desa. Apakah pemangkasan dana desa demi proyek KDMP benar-benar sejalan dengan prinsip keadilan distribusi? Mengapa desa yang tidak memiliki lahan carik harus menanggung kerugian besar tanpa solusi alternatif? Dan bagaimana pemerintah menjamin transparansi proyek agar tidak menimbulkan kecurigaan publik?

Penulis : Chandra Foetra S

Editor : Tim Redaksi

Berita Terkait

Pemkab Tasikmalaya Alokasikan Rp29,1 Miliar Dari APBD 2026 untuk Tiga Proyek Jalan dan Jembatan Penghubung SOR Mangunreja ke Komplek Pemda
Tasik Caang Menyasar Cigalontang, Dishubkominfo Tambah PJU di Desa Sirnaraja
Seluruh Kepala Bagian Setda Kabupaten Tasikmalaya Sampaikan Ucapan Selamat Hari Santri Nasional 2026
Camat se-Kabupaten Tasikmalaya Kompak Sampaikan Ucapan Hari Santri Nasional 2026, Tono Haeruman: Santri Berdaya, Negeri Jaya
Ribuan Santri Padati Kirab HSN 2026 di Tasikmalaya, Pemkab Luncurkan Program Wakaf Produktif Rp16 Miliar
Kesehatan Jiwa Bukan Hal Tabu: RSUD KHZ Musthafa Tasikmalaya Dorong Peran Aktif Masyarakat dan Layanan Inklusif
Sambut Hari Santri Nasional 2026, Kepala Desa Papayan Sumarna Ajak Santri Jadi Penggerak Kemajuan Bangsa
Hari Santri Nasional 2026, Hj. Yuli Nurhayati Ajak Santri Jadi Penggerak Kemajuan Bangsa
Berita ini 97 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:20 WITA

Pemkab Tasikmalaya Alokasikan Rp29,1 Miliar Dari APBD 2026 untuk Tiga Proyek Jalan dan Jembatan Penghubung SOR Mangunreja ke Komplek Pemda

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:19 WITA

Tasik Caang Menyasar Cigalontang, Dishubkominfo Tambah PJU di Desa Sirnaraja

Rabu, 21 Oktober 2026 - 21:34 WITA

Seluruh Kepala Bagian Setda Kabupaten Tasikmalaya Sampaikan Ucapan Selamat Hari Santri Nasional 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 - 17:41 WITA

Camat se-Kabupaten Tasikmalaya Kompak Sampaikan Ucapan Hari Santri Nasional 2026, Tono Haeruman: Santri Berdaya, Negeri Jaya

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:50 WITA

Kesehatan Jiwa Bukan Hal Tabu: RSUD KHZ Musthafa Tasikmalaya Dorong Peran Aktif Masyarakat dan Layanan Inklusif

Berita Terbaru

Kabupaten Tasikmalaya

Tasik Caang Menyasar Cigalontang, Dishubkominfo Tambah PJU di Desa Sirnaraja

Kamis, 22 Okt 2026 - 11:19 WITA