Newsline.id – Tasikmalaya, Jawa Barat,- Aksi protes warga Kecamatan Parungponteng memuncak dengan penyegelan ruang kerja Bupati Tasikmalaya, Cecep Nurul Yakin, pada Selasa siang, (23/9/2025). Tindakan ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan atas kondisi Jalan Cimanisan–Warung Legok di Desa Baru Mekar yang rusak parah dan tak kunjung diperbaiki sejak tahun 2009, Rabu (24/9/2025).
Kronologi Aksi
Puluhan warga dan mahasiswa dari Parungponteng menggelar audiensi dengan Asisten Daerah III, Asep Gunadi, di kantor Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Mereka berharap Bupati Cecep hadir langsung untuk mendengarkan keluhan warga. Namun, ketidakhadiran orang nomor satu di Tasikmalaya memicu kekecewaan mendalam.
Sebagai bentuk protes, massa menyegel ruang kerja Bupati dengan menempelkan stiker bertuliskan “Disegel oleh Masyarakat”. Koordinator lapangan aksi, Farid Apepi, menyatakan bahwa penyegelan ini adalah simbol ketidakpuasan warga terhadap janji-janji pemerintah yang tak kunjung terealisasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami menuntut hak-hak kami sebagai warga negara, terutama terkait perbaikan jalan yang sudah lama terbengkalai,” tegas Farid.
Respons Pemerintah
Seperti yang dilansir dari sejumlah portal media, Bupati Cecep Nurul Yakin mengaku tidak mengetahui adanya penyegelan ruang kerjanya. Saat kejadian, ia sedang berada di ruang Command Center yang bersebelahan dengan ruang kerja pribadinya. Bahkan, menurut laporan, Cecep sempat menerima tamu dari Perhutani dan Dinas Pertanian sebelum melanjutkan rapat dengan Dinas Pariwisata dan Budaya.
“Gak tau saya,” tulisnya, menegaskan bahwa tidak ada informasi masuk dari Setda maupun protokol bupati terkait aksi tersebut.
Tuntutan Warga
Warga Parungponteng menuntut agar Jalan Cimanisan–Warung Legok segera diperbaiki. Mereka mengklaim bahwa jalan tersebut telah tercatat dalam sistem Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kabupaten Tasikmalaya, namun hingga kini belum ada realisasi di lapangan.
Farid menambahkan bahwa ini adalah audiensi jilid II setelah sebelumnya bertemu dengan DPRD, namun tetap tidak ada tindak lanjut. Ia menilai pemerintah terkesan abai dan tidak responsif terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
“Penyegelan ini simbol bahwa warga dan mahasiswa sudah muak dengan janji kosong. Kami akan terus mengawal agar jalan Cimanisan masuk prioritas pembangunan 2025,” pungkasnya.
Penulis : Chandra Foetra S
Editor : Chandra F Simatupang









