
Bogor, Newsline.id — Setelah pemberitaan sebelumnya mengenai dugaan tidak dilakukannya pemadatan tanah dasar pada proyek rekonstruksi Jalan Bohlam–Ciburayut di Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, dalam pemasangan box culvert kini pihak konsultan pengawas akhirnya angkat bicara.
Deri, perwakilan dari PT 4Cipta Konsultan selaku konsultan pengawas proyek, menegaskan bahwa sebelum pemasangan box culvert, harus dilakukan pemadatan tanah dasar. “Kami sudah memberikan keterangan dan tindak lanjut. Sebelum pemasangan box culvert harus ada pemadatan,” ujar Deri saat dikonfirmasi Jabar.newsline.id, Rabu (5/11/2025).
Namun, ketika ditanya mengenai kehadiran konsultan pada saat pemasangan box culvert yang dilakukan pada malam hari, Deri memberikan jawaban yang justru menimbulkan tanda tanya. “Informasinya ada,” katanya singkat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pernyataan tersebut berbeda dengan hasil investigasi media sebelumnya, di mana pelaksana lapangan Andri dari pihak kontraktor CV Puji Agung Sakti mengaku akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak pengawas terkait uji kepadatan tanah dasar. “Siap kang, saya komunikasikan dulu dengan pengawas,” ujar Andri saat itu.
Saat dikonfirmasi ulang mengenai uji kepadatan tanah (DCP, sondir, atau CBR), Deri menjelaskan bahwa pihak PUPR Kabupaten Bogor telah melakukannya. “Oh iya ada kemarin, STA-nya yang kemarin sudah dapat dari sini — dari badan sini STA 175, STA 1050 juga sudah dapat, karena kita sudah dua kali tes terus untuk box ini juga dites pakai hammer test kemarin, makanya diturunkan,” ucap Deri menjelaskan.
Namun, temuan lapangan masih menunjukkan adanya indikasi ketidaksesuaian teknis, terutama pada posisi box culvert yang tampak miring dan tidak presisi. Hal itu diduga akibat tidak dilakukan pemadatan dan pemerataan tanah secara optimal sebelum pemasangan.
Menanggapi hal tersebut, Deri beralasan bahwa kondisi miring tersebut terjadi karena proses perapihan yang belum selesai. “Itu karena belum dirapikan jadi agak tidak presisi. Seperti tidak rata kan, karena belum perapihan aja. Kalau dari kepadatan enggak begitu.,” jelasnya.
Lebih lanjut, Deri menambahkan bahwa proses pemadatan merupakan bagian dari tahapan perencanaan awal proyek. “Proses pemadatan itu kan tes ya, dan itu dilakukan oleh perencana awal.
maka, dari kami mengikuti galian nya, dan untuk pemadatan itu juga pihak penyelenggara akan berinisiasi menambahkan tulangan,dan ini sudah mengikuti perencanaan.” ujarnya.
Namun fakta di lapangan menunjukkan hal berbeda. Berdasarkan pantauan investigasi Jabar.newsline.id, sebelum pemasangan box culvert, sudut galian terlihat mengalami erosi, serta lobang galian dipenuhi air hingga pekerja harus menggunakan alkon penyedot air agar area bisa kering. Menambah rasa penasaran awak media, pengerjaan pemasangan tersebut menggunakan pemadatan dasar tanah atau tidak?.
Lebih memprihatinkan lagi, saat proses pemasangan dengan mobil crane, para pekerja tampak tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti helm keselamatan, sepatu boot, atau rompi reflektif.
Saat dikonfirmasi, Deri mengaku sudah memberikan instruksi penggunaan APD kepada pekerja. “Kalau APD kan sudah kita instruksikan dari kemarin ya. Karena pada basah jadi mereka berinisiatif untuk ganti. Nanti saya instruksikan kembali agar APD-nya dipakai lagi,” katanya.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa pengawasan di lapangan belum berjalan maksimal. Padahal, sesuai spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi, pemadatan tanah dasar merupakan tahapan sebelum pemasangan struktur berat seperti box culvert, guna menghindari risiko penurunan tanah (settlement), retak sambungan, dan kerusakan dini pada saluran.
Tim Jabar.newsline.id akan terus menelusuri kebenaran pelaksanaan teknis di lapangan dan menunggu tanggapan resmi dari Dinas PUPR Kabupaten Bogor terkait dugaan kelalaian pengawasan dan pelaksanaan proyek ini.
Penulis : Wandi Azis
Editor : Chandra F Simatupang









