Newsline Bogor – Semangat kemerdekaan begitu terasa di Desa Ciburayut, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, Pemerintah Desa Ciburayut menggelar upacara bendera yang berlangsung khidmat di alun-alun desa pada Sabtu (17/08).
Sirine tanda detik-detik proklamasi bergema, diiringi pekik “Merdeka!” dari seluruh peserta upacara hingga masyarakat sekitar. Suasana terasa begitu hangat dan membanggakan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Upacara ini menjadi istimewa karena dihadiri langsung oleh anggota DPR RI Dr. Tr. H. Agun Gunandjar Sudarsa, tokoh nasional yang juga merupakan warga Desa Ciburayut sejak tahun 2007. Meski dalam kondisi kesehatan yang kurang prima, beliau tetap hadir di tengah-tengah warga sebagai bentuk kecintaan terhadap tanah kelahiran dan semangat memperingati hari kemerdekaan.
Hadir pula para mantan kepala desa, tokoh masyarakat, mantan RT dan RW dari berbagai generasi, BPD, LPM, TP PKK, serta unsur masyarakat lainnya. Kepala Desa Ciburayut, Dulloh, S.Sos, mengatakan bahwa acara ini sengaja digelar dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat desa secara langsung.

“Pemerintah Desa Ciburayut mengadakan upacara HUT ke-80 RI di sini agar masyarakat dapat merasakan langsung suasana upacara, dan masyarakat bisa mengingat kembali sejarah kemerdekaan,” ujar Dulloh.
Tak hanya itu, Dulloh juga mengundang dan memberikan apresiasi khusus kepada seluruh mantan kepala desa Ciburayut sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian mereka di masa lalu. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Dr. Agun yang hadir walau sedang tidak dalam kondisi fit.
Ketika ditemui , Dr. Agun Gunandjar Sudarsa menyampaikan pesan kebangsaan dengan penuh semangat dan reflektif:
“Dengan tema ‘Bersatu, Berdaulat, Sejahtera, Indonesia Maju’, saya—anggota DPR RI yang berdomisili di Desa Ciburayut—pada hari ini tidak bisa ikut upacara di kenegaraan di Istana, walaupun saya mendapatkan undangan selaku pimpinan alat kelengkapan di dewan. Namun demikian, karena 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia dan dengan tekad semangat pemerintahan Prabowo-Gibran, maka saya merasa wajib untuk tetap melakukan upacara. Dan hari ini saya ikut upacara di Desa Ciburayut, dengan inspektur upacara-nya Bapak Kepala Desa, Pak Dulloh.”
“Saya memang mengenal beliau sejak beliau menjadi Sekretaris Desa dulu, karena saya tinggal dari tahun 2007 sampai dengan hari ini. Mengasuh anak-anak, oyag bersama masyarakat, didampingi juga oleh Ketua PK saya, Pak Darojeh.”
Lebih jauh, Agun menyampaikan pesan penting tentang persatuan sebagai kunci utama kemajuan bangsa.
“Untuk itu saya ingin menyampaikan kepada segenap masyarakat bangsa Indonesia, dalam memperingati 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia ini, kita hanya bisa Indonesia maju kalau kita bersatu. Oleh karena itu, kebijakan-kebijakan pemerintah yang ditempuh di bidang politik, ekonomi, penegakan hukum, kalau bisa kita melihat banyak hal yang tentunya sangat progresif—bahkan mungkin ada sesuatu yang kurang tepat—tapi kalau melihat kondisi geopolitik pada hari ini, tidak ada alternatif lain. Dalam persaingan global, hanya dengan persatuan.”
“Karena dengan stabilitas itu, kita mampu menjalankan pemerintahan, dan kita akan menjadi bangsa yang dihargai, dihormati oleh bangsa-bangsa lain. Seperti kita melihat Presiden kita dielu-elukan di berbagai kunjungannya ke luar negeri. Karena itulah, menciptakan sebuah kondisi kebanggaan, semangat persatuan dan kesatuan semakin tumbuh.”
“Oleh karena itu, kami mengimbau kepada seluruh pihak yang masih juga mungkin melakukan sikap-sikap kontradiktif—katakanlah, kami menerimanya dalam demokrasi sebagai sesuatu yang niscaya, yang tidak bisa dihindarkan. Kami meyakini bahwa mereka semua juga tidak ada lain untuk kepentingan dan kemajuan bangsa. Jangan karena itu seolah-olah disintegrasi. Tentu tidak. Perbedaan-perbedaan pemahaman di antara mereka satu sama lain, saya melihat itu semuanya niscaya, karena saya melihat memang kita itu Bhinneka. Semuanya kita kembali kepada keragaman dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.”
“Saya yakin 80 tahun, bahkan sampai lima tahun ke depan, kita akan lebih sejahtera. Dan khusus Ciburayut, saya dari tahun 2007 di sini, melihat bagaimana perkembangan jalan, pertumbuhan ekonomi, lapangan—seperti yang kita saksikan hari ini. Dan ternyata yang membuat saya bangga, upacara hari itu murni dari masyarakat. RT, RW diundang, dan seluruh kepala desa terdahulu juga diundang. Dan seluruh perangkat pelaksananya itu memakai warganya sendiri, tidak dari orang lain. Ini murni menggunakan warganya sendiri. Jadi ini bisa memberikan contoh untuk desa-desa lain. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan bisa didengar. Kita bisa menjadi sebuah bangsa maju dan mandiri.”
(Wandi. A)









