TASIKMALAYA, newsline.id – BUMDes Desa Papayan, Kecamatan Jatiwaras Kabupaten Tasikmalaya yang berdiri sejak 2016 digadang-gadang jadi “mesin uang” desa, kini justru jadi bahan omongan warga. Modal awal lebih dari Rp1 miliar, tapi sampai 2024, hasilnya? Nihil. Transparansi dana? Gelap gulita.
AgriCamp: Ada di Laporan, Tak Ada di Lapangan
Program AgriCamp disebut-sebut dapat suntikan modal Rp60 juta. Tapi pengelola BUMDes malah bilang tak pernah terima apalagi keluarkan duit untuk itu. Laporan bilang ada, pengelola bilang tidak ada. Warga pun makin curiga: uangnya mampir ke mana?
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Modal Jumbo, Untung Tak Kelihatan
BUMDes Papayan dirancang untuk urusan bawang, sapi, sampai kerja sama swasta. Tapi warga bilang hasilnya cuma angin lalu.
“Jangankan untung, modal saja tak balik. Warga jadi hilang kepercayaan,” kata DN, warga setempat. Salasa (3/3/2026).
Sosialisasi Minim, Warga Cuma Jadi Penonton
Musyawarah desa? Katanya ada, tapi warga jarang diajak. Tokoh masyarakat, pemuda, bahkan unsur agama merasa ditinggalkan. Nama Direktur BUMDes 2019–2024, Apandi, pun jadi sorotan. Warga mendesak: buka buku kas, jangan cuma janji manis.
“Kami cuma ingin tahu, uang segitu larinya ke mana,” ujar seorang warga.
Klarifikasi Setengah Hati
Sekdes Papayan, Endang Mulyana, mengaku dana Rp60 juta dipakai beli alat dan bibit pertanian. Tapi soal dana 2016–2024, ia lempar bola ke kepala desa. “Kalau 2025 dipakai untuk peternakan, tapi periode sebelumnya, Pak Kuwu yang tahu,” katanya.
Kini warga mendesak laporan keuangan BUMDes dibuka terang-benderang. Dana miliaran rupiah harus jelas juntrungannya.
“BUMDes seharusnya bikin warga sejahtera, bukan bikin warga curiga,” tegas mereka.
Hingga berita ini diturunkan, Direktur BUMDes periode 2019–2024 maupun kepala desa belum buka suara. Warga masih menunggu, sambil bertanya-tanya: apakah BUMDes Papayan jadi motor ekonomi, atau sekadar mesin kabut?
Penulis : C2P
Editor : TimNewsline/Red









