Ketum PWRI: Negeri Ini Harus Segera Bersih-Bersih Dari Oknum Pejabat Titipan yang Tidak Berintegritas!!!

Selasa, 28 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Poto: Ketua Umum Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) sekaligus Praktisi Hukum/Akademisi
Watawan/Jurnalis  Dr. Suriyanto.Pd.,SH.,MH.,Mkn//jabar.newsline.id//istimewa//

Poto: Ketua Umum Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) sekaligus Praktisi Hukum/Akademisi Watawan/Jurnalis Dr. Suriyanto.Pd.,SH.,MH.,Mkn//jabar.newsline.id//istimewa//

Newsline.id- Jakarta,- Negeri ini sakit. Bukan karena kurang sumber daya, bukan karena rakyatnya malas. Penyakitnya satu: terlalu banyak pejabat titipan yang duduk bukan karena kapasitas, tapi karena kedekatan, karena lobi, mungkin juga karena amplop.

Mereka ada yang masuk lewat pintu belakang. Tidak lewat ujian kompetensi. Tidak lewat rekam jejak. Mereka datang dengan satu modal: “Saya orangnya Pak A” atau “Saya titipan Bu B”. Begitu duduk, tugas utamanya bukan melayani rakyat. Tugas utamanya menjaga kepentingan yang menitipkan.

Akibatnya apa? Kebijakan publik jadi sandera. Anggaran negara jadi bancakan. Proyek milyaran dikunci untuk kroni. Izin-izin penting diperlambat kalau tidak ada “pelicin”. Rakyat yang harusnya jadi tuan, malah jadi penonton di negerinya sendiri.

ADVERTISEMENT

WhatsApp Image 2025 01 31 at 10.32.21

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lihat saja di kementerian, di BUMD, di pemda. Berapa banyak Oknum “direktur, kepala dinas, komisaris” yang kerjanya cuma foto dan rapat. Ditanya data teknis gagap. Ditanya visi 5 tahun jawabnya ngalor-ngidul. Karena memang mereka tidak disiapkan untuk memimpin. Diduga oknum-oknum itu hanya disiapkan untuk mengamankan setoran.

Oknum Pejabat titipan tidak punya rasa malu. Gagal? Tidak mundur. Jika korup? Paling dipindah. Kinerjanya nol? Tetap aman karena “belakangnya kuat”. Ini penghinaan paling keji terhadap 280 juta rakyat yang membayar pajak dan menggaji mereka setiap bulan.

Integritas sudah jadi barang langka sejak era reformasi. Jujur dianggap bodoh. Tegas dianggap arogan. Yang pintar cari celah malah dipuji “hebat”. Sistem meritokrasi kita ini dibunuh pelan-pelan oleh budaya titip-menitip tersebut. Anak-anak muda berprestasi akhirnya pesimis. “Ngapain sekolah tinggi-tinggi, kalau ujungnya kalah sama anak pejabat.”

Dampaknya langsung ke pelayanan. Rumah sakit daerah obatnya banyak yang kosong. Sekolah rusak baru sedikit diperbaiki. Jalan berlubang banyak yang dibiarkan. Bukan karena tidak ada anggaran. Anggarannya ada. Tapi habis di tengah jalan, dipotong oleh oknum-oknum pejabat yang otaknya hanya mikir komisi.

Yang paling berbahaya: pejabat titipan tidak punya loyalitas pada negara. Loyalitasnya hanya pada pemberi tiket. Hari ini titipannya A, besok kalau A jatuh dia ikut jatuh. Atau pindah titip ke B. Negara hanya jadi alat transaksi kekuasaan.

Kita tidak butuh pejabat yang “aman”. Kita butuh pejabat yang “benar”. Kita tidak butuh yang pintar cari muka. Kita butuh yang berani bilang tidak saat ada yang salah. Kita tidak butuh yang jago pencitraan. Kita butuh yang jago kerja.

Presiden, Gubernur, Bupati, Wali Kota. Tolong dengarkan kami sebagai rakyat. Berhentilah menitipkan orang. Berhentilah membayar utang politik dengan jabatan negara. Kursi pemerintahan bukan hadiah ulang tahun. Itu amanah. Dan amanah tidak boleh diserahkan ke orang yang salah.

Buka sistem rekrutmen se-terbuka mungkin. Uji kompetensi secara publik. Umumkan LHKPN. Periksa harta. Panggil pakar, akademisi, profesional. Bukan hanya panggil tim sukses. Kalau perlu libatkan KPK dan PPATK dari awal. Jangan tunggu setelah uang negara raib.

Penulis : dr. Suryanto, PD, SH., MH., Mkn.,

Editor : Chandra Foetra S

Sumber Berita: Ketua Umum PWRI

Berita Terkait

Ratusan Mahasiswa Jebol Gerbang DPRD Kota Tasikmalaya, Unjuk Rasa Warnai Kericuhan, Satu Orang Polisi Terluka
Pemkab Tasikmalaya Alokasikan Rp29,1 Miliar Dari APBD 2026 untuk Tiga Proyek Jalan dan Jembatan Penghubung SOR Mangunreja ke Komplek Pemda
Ribuan Santri Padati Kirab HSN 2026 di Tasikmalaya, Pemkab Luncurkan Program Wakaf Produktif Rp16 Miliar
Kabid Bangunan DPUTRLH Kabupaten Tasikmalaya Buka Suara Usai Diseret Kasus Dugaan Penipuan Dengan Modus SPK Bodong Program Revitalisasi Sekolah Tahun 2025 Rp400 Juta
Janjikan Proyek Revitalisasi di Dua Sekolah Gunakan SPK Bodong dan Sebut Nama Kabid DPUTRLH dan Disdikbud Kabupaten Tasikmalaya, Seorang Pengusaha Ditipu 400 Juta Laporan Ke Polres Tasikmalaya Kota
Dugaan Jual Beli Proyek Rehabilitasi Sekolah: Kabid PJK DPUTRLH Kabupaten Tasikmalaya Terseret Dipanggil Penyidik Polres Tasikmalaya Kota
PD BPR Artha Sukapura Dorong Budaya Menabung Lewat Program Tabungan Sukapura Plus, Undian Periode 2026 Akan Dilaksanakan di HUT ke-16 Pada Februari 2027 Mendatang
Proyek Gedung Dukcapil Syarat Penyimpangan: Kepala Bidang Bangunan DPUTRLH Tasikmalaya Diduga Menghindar dari Media
Berita ini 43 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:22 WITA

Ratusan Mahasiswa Jebol Gerbang DPRD Kota Tasikmalaya, Unjuk Rasa Warnai Kericuhan, Satu Orang Polisi Terluka

Selasa, 27 Oktober 2026 - 21:20 WITA

Pemkab Tasikmalaya Alokasikan Rp29,1 Miliar Dari APBD 2026 untuk Tiga Proyek Jalan dan Jembatan Penghubung SOR Mangunreja ke Komplek Pemda

Rabu, 21 Oktober 2026 - 17:35 WITA

Ribuan Santri Padati Kirab HSN 2026 di Tasikmalaya, Pemkab Luncurkan Program Wakaf Produktif Rp16 Miliar

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:20 WITA

Kabid Bangunan DPUTRLH Kabupaten Tasikmalaya Buka Suara Usai Diseret Kasus Dugaan Penipuan Dengan Modus SPK Bodong Program Revitalisasi Sekolah Tahun 2025 Rp400 Juta

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:56 WITA

Janjikan Proyek Revitalisasi di Dua Sekolah Gunakan SPK Bodong dan Sebut Nama Kabid DPUTRLH dan Disdikbud Kabupaten Tasikmalaya, Seorang Pengusaha Ditipu 400 Juta Laporan Ke Polres Tasikmalaya Kota

Berita Terbaru

Kabupaten Tasikmalaya

Tasik Caang Menyasar Cigalontang, Dishubkominfo Tambah PJU di Desa Sirnaraja

Kamis, 22 Okt 2026 - 11:19 WITA