Tasikmalaya Darurat Perundungan: SMP Jadi Pusat Kerawanan, KPAID Soroti Ancaman Ganda

Kamis, 13 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kasus bullying./Istimewa.///.

Ilustrasi kasus bullying./Istimewa.///.

TASIKMALAYA, newsline.id – Perundungan di lingkungan sekolah formal di Kabupaten Tasikmalaya kembali menjadi sorotan. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Tasikmalaya, Ato Rinanto, menyampaikan bahwa praktik bullying masih marak terjadi dan berpotensi menjadi ancaman utama setelah kekerasan seksual.

“Bullying bukan hal baru. Ia tumbuh bersama generasi kita, hanya bentuknya kini lebih beragam—dari kekerasan fisik, verbal, hingga digital lewat media sosial,” ujar Ato saat dihubungi, Kamis (13/11/2025).

Menurut Ato, hampir seluruh sekolah di Tasikmalaya memiliki potensi kasus perundungan. Ia menekankan bahwa menghapus bullying sepenuhnya bukan hal realistis, namun membangun ketahanan anak melalui edukasi dan pendampingan adalah langkah krusial.

ADVERTISEMENT

WhatsApp Image 2025 01 31 at 10.32.21

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Rumah adalah benteng pertama. Orang tua harus tahu cara mengenali dan menangani bullying sejak dini,” tegasnya.

SMP Jadi Titik Paling Rentan

KPAID mencatat bahwa jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) menjadi zona paling rawan. Masa pubertas dan pencarian jati diri membuat pelajar di usia ini rentan terlibat dalam konflik sosial, baik sebagai pelaku maupun korban.

“SMP adalah masa transisi. Tanpa pendampingan yang tepat, anak bisa mudah terjerumus,” jelas Ato.

Data: Kekerasan Seksual Masih Dominan

Meski perundungan terus terjadi, data KPAID menunjukkan bahwa kekerasan seksual masih mendominasi laporan sepanjang 2025. Dari total pengaduan yang masuk, 43% merupakan kasus kekerasan seksual terhadap anak, baik sebagai korban maupun pelaku.

“Angka kekerasan seksual masih tertinggi. Tapi jika bullying terus dibiarkan, ia bisa menyusul sebagai ancaman utama,” katanya.

Sementara itu, kasus bullying tercatat di bawah 22% dari total laporan. Namun Ato mengingatkan bahwa angka tersebut belum mencerminkan kondisi sebenarnya.

“Banyak anak memilih diam. Mereka takut, malu, atau tidak tahu harus melapor ke siapa. Ini yang harus kita ubah,” tutupnya.

Penulis : Ade-YR

Editor : TimNewsline/Red

Berita Terkait

KSO Hemodialisa RSUD KHZ Musthafa–PT SRU Disorot, Persoalan Investasi dan Target Pelayanan Jadi Temuan, Kadinkes dan Kabag TU RSUD Bungkam!!!
RSUD KHZ Musthafa Tasikmalaya Perkuat Peran sebagai Wahana Pendidikan Klinis
Kepala Diskopukmindag Kabupaten Tasikmalaya Raih Koperasi Awards 2026
PWRI Gelar Audiensi Bersama DPRD, Kasdim 0612 Tasikmalaya Sebut KPA Proyek KDMP Adalah PT Agrinas
APDESI Tasikmalaya Akui Tak Pernah Terima Undangan Audiensi Dari DPRD Terkait Proyek KDMP yang Dipertanyakan PWRI
PWRI Kabupaten Tasikmalaya Soroti Proyek KDMP yang Diduga Langgar Sejumlah Regulasi, Audiensi Bersama DPRD Tanpa Dihadiri Bupati, Kajari dan APDESI Dinilai Abaikan Tranparansi
Ketum PWRI Desak Bongkar Proksi Medsos: Komdigi Wajib Take Down Konten Penggiringan Opini Ricuh 27 Agustus
Ketua PWRI Tasikmalaya Tegaskan Larangan Berita Titipan atau Pesanan Secara Sepihak Tanpa Verifikasi dan Konfirmasi
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 15:49 WITA

KSO Hemodialisa RSUD KHZ Musthafa–PT SRU Disorot, Persoalan Investasi dan Target Pelayanan Jadi Temuan, Kadinkes dan Kabag TU RSUD Bungkam!!!

Sabtu, 5 September 2026 - 09:06 WITA

RSUD KHZ Musthafa Tasikmalaya Perkuat Peran sebagai Wahana Pendidikan Klinis

Senin, 31 Agustus 2026 - 10:50 WITA

Kepala Diskopukmindag Kabupaten Tasikmalaya Raih Koperasi Awards 2026

Jumat, 28 Agustus 2026 - 18:41 WITA

PWRI Gelar Audiensi Bersama DPRD, Kasdim 0612 Tasikmalaya Sebut KPA Proyek KDMP Adalah PT Agrinas

Kamis, 27 Agustus 2026 - 23:20 WITA

APDESI Tasikmalaya Akui Tak Pernah Terima Undangan Audiensi Dari DPRD Terkait Proyek KDMP yang Dipertanyakan PWRI

Berita Terbaru